Sabtu, 08 Agustus 2015

“Khotbah di atas Bukit” Novel by Kuntowijyo



Synopsis :
BARMAN, begitu lah namanya, orang tua yang menginginkan menghabiskan waktu tua di atas bukit yang jauh dari keramaian kota. Pada masa pensiunya, kemudian dia memutuskan untuk tinggal di Villa di atas bukit yang dibelikan oleh anaknya yaitu bobby. Barman kemudian, menyuruh boby untuk mencarikan seorang wanita panggilan yang masih muda. Wanita yang akan menemaninya selama hidup di atas Villa. boby tidak terlalu lama mencari wanita tersebut, dibawakannya seorang wanita muda cantik, energic sepintas terlihat dari sosok tubuhnya lihai gemulai. Wanita itu adalah popi, wanita yang akan menemani Barman mencari kedamaian dan kebebasan hatinya yang selama hidupnya dia merasa terkungkung dalam penjara kehidupan pekerjaan dan dunia kota. Pencarian spritual barman pun dimulai. Semakin hari, semakin banyak pertanyaan dalam fikirannya, sejak pertemuannya dengan humam. Seorang misterius yang tinggal tidak jauh dari rumah barman di lereng gunung. Humam tinggal sendiri di gubuk kecil itu.
Percakapan demi percakapan terjadi diantara mereka, Menurut Humam, kesendirian adalah hakikat kita. “Rupanya Humam adalah orang yang suka menyendiri”. Gumamnya. Humam berkata “Keadaanku adalah ketiadaanku”. Kata-kata Humam membuatnya bingung. Menurut Barman hakikat hidup adalah gerak. Di saat tidak bergerak lagi, maka hidup telah terhenti dititik itu. Humam mengatakan “Bung kesenangan itu tak bertambah atau berkurang, kebahagiaan yang mutlak tak memerlukan apa-apa di luar diri kita”.  Lebih lanjut Humam mengatakan “Tinggalkan segala milikmu, apa saja yang menjadi milikmu, sebenarnya memilikimu”. Setiap hari barman selalu berjalan mengitari sekitar bukit demi menikmati udaranya yang dingin dan sejuk. Mulai lah barman diajari tentang makna hidup oleh humam, dengan mengikuti kemanpun humam pergi.
Singkat cerita, barman merasa sangat terhormat dalam menyampaikan pesan-pesan hidup. Berbagai kalimat-kalimat bijak keluar dari mulut sang Barman, guru masyarakat yang mendiami lereng gunung tersebut. para pengikutnya setia selalu mendampinginya. Suatu ketika Barman berjalan-jalan ke kota dengan menunggang kudanya pada malam hari.  Di perjalanan ia bertanya-tanya siapakah yang memberi kebijaksanaan pada Muhammad. Dia berdiri saja, mandi cahaya rembulan dan menghirup sepuasnya udara malam. Dia berkata kepada orang-orang di pasar itu “berbahagialah kalian”. Mereka menjawab: “tidak, kita menderita, kita sengsara”. Sampai akhirnya orang-orang berkesimpulan bahwa Barman adalah satu-satunhya orang yang bahagia dan mereka hendak mengikutinya...
Apa yang menarik dengan novel diatas? Saya kira ada banyak makna yang bisa kita ambil dari seorang Barman yang tengah mencari kedamaian dirinya yang dia tidak temukan di kota. Pak kuntowijoyo, sastrawan dan cedekiawan muslim indonesia, memang tidak diragukan lagi dalam membuat sebuah karya terutama Novel. Beliau tidak hanya mengarang cerita biasa dengan alur yang datar, akantetapi mengemas cerita dengan apik dan membuat pembaca bertanya-tanya. Membaca khotbah diatas bukit, sama saja anda merefleksikan terhadap diri anda. Selamat membaca !

Karakter: 1. Barman > pekerja keras, besar rasa ingin tahunya, penyayang
                   2.  popi > Psk, penyayang, perhatian
                   3. bobi > pengertian, menghargai orang tua
                  4. humam > misterius,
Setting 1. tempat : puncak bukit, pasar, rumah
                2. waktu : shubuh, malam, tengah hari, tengah malam


Tidak ada komentar:

Posting Komentar