BARMAN, begitu lah namanya,
orang tua yang menginginkan menghabiskan waktu tua di atas bukit yang jauh dari
keramaian kota. Pada masa pensiunya, kemudian dia memutuskan untuk tinggal di
Villa di atas bukit yang dibelikan oleh anaknya yaitu bobby. Barman kemudian,
menyuruh boby untuk mencarikan seorang wanita panggilan yang masih muda. Wanita
yang akan menemaninya selama hidup di atas Villa. boby tidak terlalu lama
mencari wanita tersebut, dibawakannya seorang wanita muda cantik, energic
sepintas terlihat dari sosok tubuhnya lihai gemulai. Wanita itu adalah popi,
wanita yang akan menemani Barman mencari kedamaian dan kebebasan hatinya yang
selama hidupnya dia merasa terkungkung dalam penjara kehidupan pekerjaan dan
dunia kota. Pencarian spritual barman pun dimulai. Semakin hari, semakin banyak
pertanyaan dalam fikirannya, sejak pertemuannya dengan humam. Seorang misterius
yang tinggal tidak jauh dari rumah barman di lereng gunung. Humam tinggal
sendiri di gubuk kecil itu.
Percakapan
demi percakapan terjadi diantara mereka, Menurut Humam, kesendirian adalah
hakikat kita. “Rupanya Humam adalah orang yang suka menyendiri”. Gumamnya.
Humam berkata “Keadaanku adalah ketiadaanku”. Kata-kata Humam membuatnya
bingung. Menurut Barman hakikat hidup adalah gerak. Di saat tidak bergerak
lagi, maka hidup telah terhenti dititik itu. Humam mengatakan “Bung kesenangan
itu tak bertambah atau berkurang, kebahagiaan yang mutlak tak memerlukan
apa-apa di luar diri kita”. Lebih lanjut
Humam mengatakan “Tinggalkan segala milikmu, apa saja yang menjadi milikmu,
sebenarnya memilikimu”. Setiap hari barman selalu berjalan mengitari sekitar
bukit demi menikmati udaranya yang dingin dan sejuk. Mulai lah barman diajari
tentang makna hidup oleh humam, dengan mengikuti kemanpun humam pergi.
Singkat
cerita, barman merasa sangat terhormat dalam menyampaikan pesan-pesan hidup. Berbagai
kalimat-kalimat bijak keluar dari mulut sang Barman, guru masyarakat yang
mendiami lereng gunung tersebut. para pengikutnya setia selalu mendampinginya. Suatu
ketika Barman berjalan-jalan ke kota dengan menunggang kudanya pada malam
hari. Di perjalanan ia bertanya-tanya
siapakah yang memberi kebijaksanaan pada Muhammad. Dia berdiri saja, mandi
cahaya rembulan dan menghirup sepuasnya udara malam. Dia berkata kepada
orang-orang di pasar itu “berbahagialah kalian”. Mereka menjawab: “tidak, kita
menderita, kita sengsara”. Sampai akhirnya orang-orang berkesimpulan bahwa
Barman adalah satu-satunhya orang yang bahagia dan mereka hendak mengikutinya...
Apa
yang menarik dengan novel diatas? Saya kira ada banyak makna yang bisa kita
ambil dari seorang Barman yang tengah mencari kedamaian dirinya yang dia tidak
temukan di kota. Pak kuntowijoyo, sastrawan dan cedekiawan muslim indonesia,
memang tidak diragukan lagi dalam membuat sebuah karya terutama Novel. Beliau tidak
hanya mengarang cerita biasa dengan alur yang datar, akantetapi mengemas cerita
dengan apik dan membuat pembaca bertanya-tanya. Membaca khotbah diatas bukit,
sama saja anda merefleksikan terhadap diri anda. Selamat membaca !
Karakter: 1. Barman > pekerja keras, besar
rasa ingin tahunya, penyayang
2.
popi > Psk, penyayang, perhatian
3. bobi > pengertian, menghargai orang
tua
4. humam > misterius,
Setting 1. tempat : puncak bukit, pasar, rumah
2.
waktu : shubuh, malam, tengah hari, tengah malam

Tidak ada komentar:
Posting Komentar